Privat Garut

Zaid bin Haritsah: Anak Angkat Nabi yang Setia Hingga Nafas Terakhir

  • Gustholah_2
  • Nov 24, 2025
Zaid bin Haritsah

privatgarut.com Zaid bin Haritsah, Dalam sejarah Islam, ada banyak tokoh yang memberikan inspirasi lewat kesetiaan, keberanian, dan pengabdian mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Salah satu sosok yang sangat istimewa dan sering menjadi perhatian adalah Zaid bin Haritsah. Ia bukan hanya sahabat dan pejuang yang setia, tetapi juga anak angkat Nabi yang menunjukkan loyalitas dan cinta tanpa batas. Artikel ini akan membahas tentang siapa Zaid bin Haritsah, perjalanan hidupnya, peranannya dalam sejarah Islam, dan mengapa ia menjadi figur penting yang dikenang hingga saat ini.


Siapakah Zaid bin Haritsah?

Zaid bin Haritsah adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat dekat dan memiliki kedudukan istimewa sebagai anak angkat Rasulullah. Ia lahir dari keluarga yang tidak beruntung dan pernah menjadi budak sebelum dibebaskan oleh Nabi. Zaid kemudian diangkat menjadi anak angkat Rasulullah sebelum pengangkatan anak angkat ini dilarang dalam Islam.

Zaid adalah anak seorang lelaki bernama Haritsah yang berasal dari suku Kinana. Sayangnya, setelah kematian ayahnya, ia menjadi budak dan dijual oleh para pedagang. Ketika sampai di Mekah, ia dibeli oleh Khadijah RA dan kemudian diserahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Karena kasih sayang yang besar, Nabi Muhammad membebaskan Zaid dan mengangkatnya sebagai anak angkat, sehingga ia dikenal sebagai Zaid bin Muhammad. Peristiwa ini menjadi momen penting dalam sejarah Islam karena menggambarkan kedekatan emosional dan sosial yang sangat luar biasa antara Nabi dan Zaid.


Peran Zaid bin Haritsah dalam Sejarah Islam

Zaid bin Haritsah

Sahabat Setia Sejak Awal Dakwah

Zaid bin Haritsah merupakan salah satu sahabat yang paling setia mendampingi Nabi Muhammad sejak awal dakwah Islam. Saat dakwah Islam mulai mendapat tantangan berat dari para musyrik Quraisy, Zaid selalu berada di sisi Nabi memberikan dukungan moral dan fisik.

Peran Sebagai Panglima dalam Perang

Zaid tidak hanya setia secara emosional, tetapi juga menunjukkan keberanian yang luar biasa dalam medan perang. Ia dipercaya menjadi panglima dalam beberapa pertempuran penting, seperti Perang Muโ€™tah yang terjadi pada tahun 629 M. Dalam pertempuran tersebut, Zaid menjadi panglima tentara Islam menggantikan Nabi Muhammad yang tidak ikut langsung ke medan perang.

Sayangnya, Zaid gugur sebagai syahid dalam pertempuran ini. Ia wafat dengan penuh kehormatan, menunjukkan loyalitas dan keberanian yang tak tergoyahkan sampai akhir hayatnya.


Hubungan Istimewa antara Nabi Muhammad dan Zaid bin Haritsah

Anak Angkat Rasulullah yang Dicintai

Pengangkatan Zaid sebagai anak angkat Nabi Muhammad SAW bukan sekadar formalitas sosial, melainkan merupakan wujud kasih sayang dan penghormatan yang tinggi. Nabi sangat menyayangi Zaid dan memperlakukan dia seperti anak kandung sendiri.

Namun, setelah turunnya ayat Al-Qurโ€™an yang menegaskan bahwa anak angkat tidak boleh disamakan dengan anak kandung dalam hal nasab, Zaid kembali menggunakan nama ayah kandungnya, Haritsah. Meskipun demikian, hubungan emosional dan kedekatan spiritual antara Nabi dan Zaid tetap kuat.


Keutamaan dan Karakter Zaid bin Haritsah

Kesetiaan yang Tidak Pernah Luntur

Sepanjang hidupnya, Zaid menunjukkan kesetiaan total kepada Nabi Muhammad SAW dan Islam. Ia tidak pernah ragu untuk mempertaruhkan nyawanya demi agama dan sang Nabi.

Kesederhanaan dan Kerendahan Hati

Meskipun memiliki kedudukan khusus, Zaid tetap hidup sederhana dan rendah hati. Ia tidak pernah mencari kemewahan atau jabatan duniawi, melainkan fokus pada perjuangan agama dan membantu sesama.


Zaid bin Haritsah dalam Hadis dan Literatur Islam

Kisah dan keutamaan Zaid bin Haritsah banyak disebut dalam hadis-hadis dan riwayat sejarah Islam. Beberapa hadis menekankan kedekatan Zaid dengan Nabi dan keutamaan pengorbanannya.

1. Zaid bin Haritsah sebagai Orang yang Dicintai Nabi SAW

Hadis dari Anas bin Malik RA:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณูุŒ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูŽ ูƒูŽุงู†ููˆุง ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽ ุฒูŽูŠู’ุฏูŽ ุจู’ู†ูŽ ุญูŽุงุฑูุซูŽุฉูŽุŒ ู…ูŽูˆู’ู„ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ๏ทบุŒ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ู†ูŽุฒูŽู„ูŽุชู’ โ€๏ดฟโ€ุงุฏู’ุนููˆู‡ูู…ู’ ู„ูุขุจูŽุงุฆูู‡ูู…ู’โ€๏ดพโ€ โ€[โ€ุงู„ุฃุญุฒุงุจ: 5โ€]โ€

โ€œDari Anas RA, bahwa orang-orang dahulu memanggil Zaid bin Haritsah sebagai ‘anak angkat Rasulullah SAW’ hingga turun ayat: ‘Panggillah mereka (anak angkat) dengan (menisbatkan kepada) ayah-ayah mereka.’ (QS. Al-Ahzab: 5).โ€ (HR. Bukhari No. 4782, Muslim No. 2425)

Makna & Konteks:
Ayat ini diturunkan karena sebelumnya Zaid dianggap sebagai anak Nabi Muhammad SAW. Hubungan keduanya sangat dekat sampai-sampai masyarakat mengira Zaid adalah anak kandung Nabi. Allah kemudian menegaskan bahwa nasab harus tetap kepada ayah kandungnya, namun ini tidak mengurangi kedekatan dan cinta Nabi kepada Zaid.


2. Kecintaan Nabi kepada Zaid bin Haritsah

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid RA:

ู‚ูŽุงู„ููˆุง: ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจูู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: “ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู”. ู‚ููŠู„ูŽ: ููŽู…ูู†ูŽ ุงู„ุฑูู‘ุฌูŽุงู„ูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: “ุฃูŽุจููˆู‡ูŽุง”. ู‚ูู„ู’ุชู: ุซูู…ูŽู‘ ู…ูŽู†ู’ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: “ุซูู…ูŽู‘ ุนูู…ูŽุฑู”ุŒ ููŽุนูŽุฏูŽู‘ ุฑูุฌูŽุงู„ู‹ุง

Dalam riwayat yang lain: Usamah bin Zaid dan ayahnya Zaid bin Haritsah termasuk yang paling dicintai Nabi SAW. (HR. Bukhari No. 3662, Muslim No. 2384)

Makna & Konteks:
Usamah bin Zaid dikenal sebagai โ€œhubb Rasulillahโ€ (kekasih Rasulullah), dan ayahnya Zaid disebut โ€œmaula Rasulillahโ€ (orang dekat yang dibebaskan Nabi). Kedua-duanya dikenal sangat dicintai Nabi, hingga nama mereka disebut secara khusus oleh beliau dalam beberapa kesempatan.


3. Zaid bin Haritsah sebagai Panglima Perang

Dari Abdullah bin Umar RA:

ู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ๏ทบ ุฒูŽูŠู’ุฏูŽ ุจู’ู†ูŽ ุญูŽุงุฑูุซูŽุฉูŽ ูููŠ ุบูŽุฒู’ูˆูŽุฉู ู…ูุคู’ุชูŽุฉูŽุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฅูู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ุฒูŽูŠู’ุฏูŒ ููŽุฌูŽุนู’ููŽุฑูŒุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ุฌูŽุนู’ููŽุฑูŒ ููŽุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจู’ู†ู ุฑูŽูˆูŽุงุญูŽุฉูŽ

โ€œRasulullah SAW menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima dalam Perang Muโ€™tah. Beliau bersabda: Jika Zaid terbunuh, maka Jaโ€™far bin Abi Thalib (penggantinya), dan jika Jaโ€™far terbunuh, maka Abdullah bin Rawahah.โ€(HR. Bukhari No. 4261)

Makna & Konteks:
Zaid bin Haritsah adalah satu-satunya sahabat yang namanya disebut langsung dalam Al-Qurโ€™an (QS. Al-Ahzab: 37) dan diberi kehormatan luar biasa oleh Rasulullah SAW. Menjadi panglima utama dalam Perang Muโ€™tah adalah bukti kepercayaan besar Nabi padanya.

Pelajaran yang Bisa Diambil dari Kehidupan Zaid bin Haritsah

Zaid bin Haritsah

Nilai Kesetiaan dan Pengabdian

Zaid mengajarkan kita bahwa kesetiaan dan pengabdian kepada kebaikan dan pemimpin yang benar sangatlah penting. Ia rela melewati segala rintangan demi menegakkan kebenaran.

Pentingnya Kasih Sayang dalam Hubungan Manusia

Kisah pengangkatan Zaid sebagai anak angkat oleh Nabi Muhammad menunjukkan betapa kasih sayang bisa melampaui batas-batas sosial dan status.

Keberanian dalam Membela Kebenaran

Zaid bin Haritsah juga menjadi simbol keberanian yang harus dimiliki oleh setiap muslim dalam mempertahankan agama dan keadilan.

Zaid bin Haritsah adalah contoh sahabat Nabi yang luar biasa, bukan hanya karena kedudukannya sebagai anak angkat, tetapi karena kesetiaan, keberanian, dan pengorbanannya yang tiada tara. Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk meneladani sifat-sifat mulia seperti setia, rendah hati, dan berani membela kebenaran.

Dengan mengenal lebih dalam tentang Zaid bin Haritsah, kita tidak hanya mengetahui sejarah, tetapi juga mendapatkan motivasi untuk menjalani hidup dengan prinsip-prinsip yang sama, terutama dalam konteks pengabdian kepada agama dan kemanusiaan.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *