Privat Garut

Nabi Musa Sang Pemberani: Kisah Laut yang Terbelah Dua

  • Gustholah_2
  • Nov 24, 2025

privatgarut.com Dalam sejarah panjang peradaban manusia dan agama samawi, kisah Nabi Musa menempati tempat istimewa. Nabi yang satu ini disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari 130 kali, lebih banyak dari nabi-nabi lainnya, termasuk Nabi Muhammad SAW sendiri. Kisahnya menyentuh berbagai aspek kehidupanโ€”dari keberanian, kepemimpinan, hingga keteguhan iman dalam menghadapi kekuasaan yang zalim.

Salah satu momen paling menakjubkan dalam kisah Nabi Musa adalah ketika laut terbelah dua. Peristiwa ini bukan hanya keajaiban, tetapi juga menjadi simbol kemenangan iman atas ketakutan, dan kebenaran atas kesombongan. Artikel ini akan membahas kisah Nabi Musa dari awal panggilannya hingga saat ia memimpin kaumnya melewati laut yang terbelah.

Nabi Musa

Awal Mula Kisah Nabi Musa: Dari Sungai Nil ke Istana Firaun

1. Kelahiran di Masa Kekejaman

Nabi Musa dilahirkan di Mesir pada masa pemerintahan Firaun yang sangat kejam. Dalam Al-Qurโ€™an surah Al-Qashash ayat 4 dijelaskan bagaimana Firaun menindas Bani Israil:

“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Ia menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 4)

Karena khawatir akan muncul seorang lelaki dari Bani Israil yang akan menggulingkan kekuasaannya, Firaun memerintahkan pembunuhan massal terhadap bayi laki-laki. Ibu Nabi Musa, yang takut anaknya akan terbunuh, diperintahkan oleh Allah untuk meletakkan Musa kecil ke dalam sebuah peti dan menghanyutkannya ke Sungai Nil.

2. Musa Ditemukan oleh Istri Firaun

Atas kehendak Allah, peti berisi bayi Musa ditemukan oleh keluarga Firaun. Istri Firaun, Asiyah, jatuh cinta pada bayi tersebut dan meyakinkan suaminya untuk membesarkannya.

“Dan berkatalah istri Firโ€™aun: ‘(Ia) adalah penyejuk mata hatiku dan (juga) matamu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak.'” (QS. Al-Qashash: 9)

Ketika sudah dewasa, Musa melihat seorang bangsa Mesir (Qibthi) menyiksa seorang lelaki dari Bani Israil. Karena tidak tahan melihat ketidakadilan, Musa menolongnya dan memukul orang Mesir tersebut hingga meninggal dunia. Peristiwa ini membuat Musa menjadi buronan. Ia pun melarikan diri ke negeri Madyan, di mana ia kelak akan bertemu dengan seorang nabi lain, yaitu Nabi Syuโ€™aib.

4. Pernikahan dan Hidup di Madyan

Di Madyan, Nabi Musa menolong dua wanita yang kesulitan memberi minum ternak mereka. Ayah kedua wanita itu (yang diyakini sebagai Nabi Syuโ€™aib) mengundangnya untuk tinggal dan akhirnya menikahkan Musa dengan salah satu putrinya. Nabi Musa tinggal di sana selama sekitar 10 tahun, menjalani kehidupan sebagai penggembala yang sederhana namun penuh pelajaran.

5. Wahyu di Bukit Thur

Dalam perjalanan pulang ke Mesir bersama keluarganya, Nabi Musa melihat api dari kejauhan di Bukit Thur. Saat mendekati api tersebut, ia mendapat wahyu dari Allah SWT:

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha: 14)

Nabi Musa pun diperintahkan untuk kembali ke Mesir dan menghadapi Firaun guna membebaskan Bani Israil dari perbudakan.


Bentrokan Nabi Musa dan Firaun

Nabi Musa

6. Seruan Kepada Firaun

Dengan ditemani saudaranya, Nabi Harun, Nabi Musa kembali ke Mesir dan langsung menuju istana Firaun. Ia menyampaikan pesan Allah:

“Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Firaun) dan katakanlah: ‘Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami…'” (QS. Thaha: 47)

Namun Firaun yang arogan justru menantang Musa dan menuduhnya sebagai tukang sihir.

7. Pertarungan dengan Para Tukang Sihir

Firaun mengumpulkan para penyihir terbaik untuk melawan Musa dalam duel sihir. Para penyihir melemparkan tali mereka dan terlihat seperti ular yang bergerak. Namun ketika Musa melemparkan tongkatnya, dengan izin Allah, tongkat itu berubah menjadi ular besar yang menelan semua sihir mereka Para penyihir pun langsung sujud, menyatakan keimanan kepada Tuhan Musa dan Harun. Hal ini membuat Firaun murka, dan ia menyiksa para penyihir tersebut, tetapi benih iman sudah tertanam.

8. Pengejaran oleh Firaun

Setelah berbagai tanda kebesaran Allah, Firaun tetap tidak mau melepaskan Bani Israil. Maka Allah memerintahkan Nabi Musa untuk membawa kaumnya keluar dari Mesir secara diam-diam pada malam hari. Ketika Firaun sadar, ia segera mengejar dengan pasukan besar. Kaum Bani Israil pun terjebak di tepi laut, sementara di belakang mereka pasukan Firaun mendekat.

9. Doa dan Mukjizat Terjadi

Bani Israil panik. Namun Nabi Musa dengan tegar berkata:

“Sekali-kali tidak akan tertangkap! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syuโ€™ara: 62) Atas perintah Allah, Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke laut: “Lalu Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah laut itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS. Asy-Syuโ€™ara: 63) Bani Israil pun menyeberangi laut melalui jalan kering di tengah laut yang terbelah. Saat Firaun dan pasukannya mencoba mengikuti, air laut kembali menutup dan menenggelamkan mereka semua.


Hikmah dari Kisah Nabi Musa dan Laut Terbelah

10. Kekuatan Iman Melampaui Segalanya

Kisah Nabi Musa mengajarkan bahwa dengan iman, tidak ada yang tidak mungkin. Dalam kondisi terdesak dan tidak ada jalan keluar, Allah menunjukkan kuasa-Nya bagi orang yang yakin dan sabar.

11. Kepemimpinan yang Pemberani

Nabi Musa adalah sosok pemimpin yang tidak hanya pemberani, tapi juga penyayang, sabar, dan visioner. Ia menghadapi Firaun tanpa rasa takut dan memimpin umat yang keras kepala dengan penuh pengorbanan.

12. Kezaliman Tidak Akan Menang

Firaun yang sombong dan zalim akhirnya ditenggelamkan. Ini adalah pelajaran bahwa kekuasaan yang didasari keburukan pasti akan hancur, cepat atau lambat.

Menghidupkan Semangat Nabi Musa dalam Kehidupan Kita

Kisah Nabi Musa bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah cermin bagi kita semua tentang pentingnya keberanian, kepemimpinan, iman, dan perjuangan melawan ketidakadilan. Setiap kita bisa menjadi โ€œMusaโ€ dalam kehidupan kita masing-masingโ€”berani berkata benar di hadapan โ€œFiraunโ€ modern berupa kezaliman, kebodohan, atau keputusasaan. Sebagai orang tua, guru, atau pembimbing generasi muda, kita harus menanamkan nilai-nilai dari kisah Nabi Musa: keberanian untuk membela kebenaran, kesabaran dalam menghadapi cobaan, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bertakwa.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *