Privat Garut

Kisah Nabi Nuh untuk Anak: Bahtera Besar dan Hujan 40 Hari 40 Malam!

  • Gustholah_2
  • Nov 24, 2025
Kisah Nabi Nuh

privatgarut.com Kisah Nabi Nuh, Anak-anak pernahkah kalian mendengar tentang kisah seorang nabi yang membuat perahu super besar di tengah-tengah padang pasir? Perahu itu bukan sembarangan, lho. Itu adalah bahtera raksasa yang menyelamatkan banyak makhluk hidup dari banjir besar yang terjadi selama 40 hari 40 malam! Wah, seru banget, ya? Hari ini, yuk kita dengarkan Kisah Nabi Nuh, salah satu cerita paling luar biasa dalam sejarah umat manusia yang berasal dari Al-Qurโ€™an dan hadits. Orang tua juga bisa membacakan cerita ini sambil menjelaskan nilai-nilai penting yang bisa kita pelajari bersama.

Nabi Nuh โ€˜alaihissalam adalah salah satu nabi utama dalam Islam. Beliau adalah keturunan kesembilan dari Nabi Adam โ€˜alaihissalam. Allah SWT mengangkatnya menjadi rasul untuk kaumnya yang saat itu sudah jauh dari ajaran kebenaran. Mereka menyembah berhala, melakukan perbuatan dosa, dan tidak percaya kepada Tuhan yang Esa. Tahukah kamu? Beliau hidup selama hampir 950 tahun! Ini disebutkan dalam Al-Qurโ€™an dalam Surah Al-โ€˜Ankabut ayat 14: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun…” (QS. Al-โ€˜Ankabut: 14) Bayangkan, selama ratusan tahun, Beliau berdakwah kepada kaumnya tanpa kenal lelah. Tapi sayangnya, hanya sedikit yang mau mengikuti ajarannya.


Awal Mula Kisah: Kaum yang Keras Kepala

Kisah Nabi Nuh

Nabi Nuh datang kepada kaumnya dan berkata: “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan selain Dia!” (QS. Al-Aโ€™raf: 59) Namun, mereka tidak percaya dan malah mengejek beliau. Mereka menutup telinga dan menutupi kepala mereka agar tidak mendengar dakwah Nabi Nuh. Bahkan, mereka berkata Nabi Nuh itu gila! Sungguh, ini membuat hati Beliau sangat sedih.

Tetap Sabar Meski Diejek

Nabi Nuh tidak marah. Beliau tetap sabar dan terus mendoakan mereka agar mendapat hidayah. Tapi setelah ratusan tahun berlalu dan hanya sedikit yang beriman, Beliau akhirnya berdoa kepada Allah agar diberi petunjuk bagaimana menghadapi kaumnya yang keras kepala.


Perintah Aneh: Bangun Bahtera di Daratan

Wahyu dari Allah yang Tak Masuk Akal di Mata Manusia

Suatu hari, Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh โ€˜alaihis salam untuk membuat sebuah bahtera besarโ€”semacam kapal raksasa. Tapi, bukan di tepi sungai atau di pinggir laut. Allah menyuruh Nabi Nuh membangunnya di tengah daratan yang kering, jauh dari perairan mana pun.

“Dan Kami wahyukan kepada Nuh: Buatlah kapal di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, dan janganlah engkau berbicara dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS. Hud: 37)

Bagi orang-orang di sekeliling Nabi Nuh, perintah ini tampak aneh, tidak logis, bahkan menggelikan. Mereka tidak tahu bahwa ini adalah bagian dari rencana Allah yang sangat besar.

Mengapa Harus Buat Bahtera?

Allah memberitahu Nabi Nuh bahwa akan datang azab berupa banjir besar yang meliputi seluruh bumi. Air akan turun deras dari langit dan memancar dari dalam bumi. Tidak akan ada satu pun makhluk hidup yang selamatโ€”kecuali yang berada di dalam bahtera itu.

Bahtera itu bukan sekadar kendaraan, tetapi alat keselamatan dari Allah untuk para hamba-Nya yang taat dan beriman.


Hikmah dan Pelajaran dari Perintah yang Terlihat Aneh Ini

1. Ketaatan Total pada Perintah Allah

Meskipun secara logika manusia perintah tersebut tidak masuk akal, Nabi Nuh tetap taat sepenuhnya. Ia tidak menawar, tidak meragukan, dan tidak bertanya โ€œkenapa bukan di laut?โ€ atau โ€œapakah tidak sebaiknya ditunda dulu?โ€ Pelajaran: Terkadang, perintah Allah memang tidak bisa dipahami akal manusia secara langsung. Tapi, ketaatan tanpa syarat kepada-Nya adalah bukti keimanan sejati.

2. Iman Sejati Teruji di Saat Tidak Masuk Akal

Orang-orang beriman bukan hanya diuji saat segala sesuatu terasa logis dan mudah. Justru ujian sesungguhnya hadir saat kita disuruh percaya pada sesuatu yang belum terlihat. Nabi Nuh percaya akan datang banjir besar, padahal hari-hari itu cerah dan kering. Di sinilah letak kemuliaan iman.

3. Dakwah Tidak Selalu Diterima, Tapi Teruslah Berdakwah

Selama membangun bahtera, Nabi Nuh tetap terus berdakwah. Ia mengajak orang-orang untuk bertaubat dan naik ke bahtera. Tapi apa yang ia dapat? Cacian, hinaan, dan ejekan. Mereka menyebut Nabi Nuh gila. โ€œDan mulailah Nuh membuat kapal. Dan setiap kali pemuka kaumnya melewati Nabi Nuh, mereka mengejeknya. Nabi Nuh berkata, ‘Jika kamu mengejek kami, maka kami pun akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek kami.'” (QS. Hud: 38) Pelajaran: Jangan berhenti berbuat benar hanya karena banyak orang tidak setuju. Kebenaran tidak selalu populer.

4. Perencanaan Allah Lebih Luas dari Pemahaman Manusia

Membangun kapal besar di tengah daratan terdengar seperti kegagalan rencana dalam logika manusia. Tapi, justru dari situlah Allah menunjukkan bahwa segala sesuatu bisa terjadi atas kehendak-Nya, bahkan yang tidak mungkin menurut kita. Hikmah: Jangan remehkan rencana Allah hanya karena kita belum melihat hasilnya hari ini.

5. Keselamatan Hanya untuk yang Beriman

Mereka yang meremehkan perintah Allah dan menolak naik ke bahtera akhirnya tenggelam dalam banjir besar. Termasuk anak Nabi Nuh sendiri yang memilih membangkang. โ€œNuh berkata: Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir. Ia (anaknya) menjawab: Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air.โ€ (QS. Hud: 42โ€“43) Pelajaran: Kedekatan nasab tidak menjamin keselamatan. Yang menyelamatkan adalah iman dan ketaatan kepada Allah.

Diejek Tapi Tetap Tegar

Dalam hidup, ejekan seringkali datang ketika seseorang melakukan sesuatu yang berbeda, besar, atau belum dimengerti oleh orang lain. Rasa sakit karena diremehkan bisa sangat menyiksa, apalagi jika datang dari orang-orang terdekat atau komunitas sendiri. Namun, sejarah dan wahyu memberi kita teladan luar biasa tentang ketegaran hati di tengah cercaan, salah satunya adalah kisah Nabi Nuh AS.

1. Misi Nabi Nuh: Menyeru Tanpa Lelah

Nabi Nuh diutus oleh Allah SWT kepada kaumnya yang telah jauh tersesat. Mereka menyembah berhala, menjalani hidup dengan kesombongan, dan menolak kebenaran. Selama lebih dari 950 tahun (QS. Al-Ankabut: 14), Nabi Nuh terus berdakwah siang dan malam, secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Namun, hanya segelintir orang yang mau mendengar. Meski terus ditolak, Nabi Nuh tidak menyerah. Ia tetap menyampaikan risalah dengan penuh kesabaran, meski balasannya adalah hinaan dan cemoohan. Ini adalah pelajaran penting: keteguhan dalam menyampaikan kebaikan tidak selalu mendapat sambutan baik, namun tetap bernilai tinggi di sisi Allah.


2. Membangun Bahtera: Perintah Aneh di Mata Manusia

Suatu hari, Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membangun bahtera besar di atas tanah yang jauh dari laut. Tentu saja, ini tampak tidak masuk akal bagi kaumnya. “Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Setiap kali pemimpin kaumnya melewati Nuh, mereka mengejeknya.”
(QS. Hud: 38) Bayangkan, seseorang membangun kapal raksasa di tengah gurun yang kering. Kaumnya menertawakan dan berkata: “Wahai Nuh, apakah engkau membuat kapal di daratan? Apakah engkau sudah gila?” Namun, Nabi Nuh tidak marah. Ia hanya menjawab: “Jika kamu mengejek kami, maka kami pun akan mengejek kamu sebagaimana kamu mengejek kami.”
(QS. Hud: 38) Tanggapan ini mencerminkan keteguhan hati yang luar biasa. Ia tidak membalas dengan amarah, tapi dengan sikap tegas dan tenang. Ia tahu, yang ia lakukan adalah perintah dari Tuhan. Maka ejekan manusia tidak lebih dari suara angin lalu.


3. Tegar dalam Keyakinan

Apa yang membuat Nabi Nuh tetap kuat?

  • Keyakinan penuh kepada Allah. Ia tahu bahwa ejekan itu hanya sementara, tapi kebenaran dari Allah adalah mutlak dan abadi.
  • Fokus pada tujuan. Ia tidak membiarkan hinaan mengalihkan perhatiannya dari tugas besar: menyelamatkan umat yang beriman.
  • Tidak balas dendam. Nabi Nuh tidak membalas dengan hinaan yang sama. Ia membalas ejekan dengan ketegasan dan keimanan, bukan dengan kebencian.

Ini adalah pesan mendalam bagi kita: jangan biarkan ejekan mematahkan semangat kita. Bila kita tahu bahwa yang kita lakukan benar dan bernilai, maka teruslah melangkah. Suara-suara negatif hanyalah gangguan, bukan rambu yang menentukan arah.


4. Akhir Kisah: Kemenangan Orang yang Bersabar

Ketika banjir besar datang sebagai bentuk azab Allah, hanya Nabi Nuh dan pengikut yang beriman yang selamat di atas bahtera. Orang-orang yang dulu mengejek? Tenggelam bersama kesombongan dan ketidakpercayaan mereka.

Kisah ini menunjukkan bahwa:

Kesabaran dan keteguhan berbuah keselamatan dan kemuliaan.

Kebenaran akan menang, meski harus melalui ujian berat.

Orang-orang yang mengejek pada akhirnya akan menyesal.


Bahtera Siap! Siapa Saja yang Naik?

Pasangan Hewan-Hewan

Setelah bahtera selesai, Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membawa sepasang dari setiap jenis hewan. Jadi, ada dua ekor gajah, dua singa, dua ayam, dua kambing, dan banyak lagi. Ini seperti kebun binatang terapung!

“…Dan muatkanlah ke dalam kapal itu masing-masing sepasang (jantan dan betina) dari setiap jenis, dan (juga) keluargamu…” (QS. Hud: 40)

Orang-Orang yang Beriman

Hanya orang-orang yang percaya pada Nabi Nuh yang diperbolehkan masuk ke bahtera. Sedikit sekali jumlah mereka. Bahkan anak dan istri Nabi Nuh sendiri tidak ikut naik karena mereka tidak beriman.


Banjir Besar: Hujan 40 Hari 40 Malam

Kisah Nabi Nuh

Air Datang dari Langit dan Tanah

Akhirnya, hari yang dijanjikan tiba. Langit menghitam. Awan bergemuruh. Hujan turun deras tanpa henti. Dalam waktu bersamaan, air menyembur dari bumi. Dalam waktu singkat, semua tempat mulai terendam.

40 Hari dan 40 Malam

Air tidak berhenti turun selama 40 hari dan 40 malam! Gunung-gunung tinggi pun ikut tenggelam. Hanya bahtera Nabi Nuh yang terapung dan aman di atas air.

“…Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang telah ditetapkan.” (QS. Al-Qamar: 11-12)


Tragis: Anak Nabi Nuh Menolak Naik Bahtera

Dialog Sedih Seorang Ayah

Salah satu momen paling menyedihkan adalah saat Nabi Nuh memanggil anaknya, Kan’an, yang tidak mau naik ke bahtera.”Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau termasuk orang-orang kafir!” (QS. Hud: 42) Anaknya menjawab: “Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah.” Tapi Nabi Nuh berkata: “Tidak ada yang dapat melindungi hari ini dari azab Allah, kecuali orang yang dirahmati.” Dan air pun menenggelamkan anak Nabi Nuh…


Air Surut, Bahtera Mendarat

Setelah 40 hari berlalu, hujan pun berhenti. Air mulai surut. Bahtera Nabi Nuh mendarat di sebuah tempat yang disebut Bukit Judi.

“…Dan dikatakan: ‘Hai bumi! Telanlah airmu dan hai langit (hujan)! Berhentilah.’ Dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan kapal itu pun berlabuh di atas bukit Judi…” (QS. Hud: 44)

Semua makhluk yang selamat keluar dari bahtera. Dari mereka-lah manusia dan hewan-hewan kembali hidup dan berkembang biak.


Pelajaran dari Kisah Nabi Nuh

Kisah Nabi Nuh bukan hanya cerita petualangan yang seru, tapi juga penuh pelajaran penting untuk anak-anak dan orang tua. Yuk, kita pelajari satu per satu!

1. Sabar dan Tidak Putus Asa

Nabi Nuh berdakwah selama ratusan tahun tanpa menyerah. Beliau sabar meskipun terus diejek dan ditolak. Kita juga harus belajar sabar dalam menghadapi ujian.

2. Percaya kepada Allah

Walaupun disuruh membangun kapal di padang pasir, Nabi Nuh tetap percaya. Ini menunjukkan iman yang kuat. Kita juga harus percaya bahwa perintah Allah selalu yang terbaik.

3. Selalu Bersyukur dan Taat

Kaum Nabi Nuh dihancurkan karena mereka sombong dan tidak mau bersyukur. Kita harus selalu taat pada perintah Allah dan tidak menolak kebenaran.

4. Pentingnya Keluarga yang Beriman

Meskipun Nabi Nuh adalah orang yang sangat baik, tidak semua anggota keluarganya selamat. Artinya, keimanan adalah pilihan masing-masing. Kita harus mengajak keluarga untuk bersama-sama taat pada Allah.

5. Alam Bisa Menjadi Azab

Air yang biasanya membawa kehidupan bisa juga menjadi bencana jika Allah berkehendak. Kita diajarkan untuk menghargai alam dan menjaga lingkungan.


Cara Orang Tua Menyampaikan Kisah Nabi Nuh

  1. Gunakan Bahasa yang Sederhana: Sesuaikan gaya bahasa dengan usia anak.
  2. Gunakan Media Visual: Tampilkan gambar bahtera, hujan, dan binatang agar anak lebih mudah memahami.
  3. Ajak Berdialog: Tanyakan pendapat anak tentang sikap Nabi Nuh.
  4. Kaitkan dengan Kehidupan Sehari-hari: Misalnya, saat hujan turun, ingatkan anak tentang kekuasaan Allah.

Kisah Nabi Nuh adalah kisah nyata yang luar biasa. Dari kisah ini, kita belajar bahwa hanya dengan iman dan ketaatan kepada Allah-lah kita akan selamat. Bahtera Nabi Nuh bukan hanya kapal kayu raksasa, tapi simbol keselamatan bagi orang-orang yang percaya.

Yuk, terus belajar dari kisah para nabi dan ambil pelajaran terbaiknya!

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *